Mitos Gunung Ciremai

gunung ciremai
Gunung Ciremai termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) , merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat yang mempunyai ketinggian 3.078 Mdpl.

Gunung Ciremai secara administratif masuk ke dalam wilayah tiga kabupaten, yakni Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat.

Gunung ini memiliki kawah ganda. Kawah barat yang beradius 400 m terpotong oleh kawah timur yang beradius 600 m. Pada ketinggian sekitar 2.900 m dpl di lereng selatan terdapat bekas titik letusan yang dinamakan Gowa Walet.

Seperti umumnya gunung-gunung tinggi lainnya di Indonesia, gunung Ciremai yang berjarak lebih kurang 25 km arah selatan kota Cirebon ini juga memiliki beragam mitos. Berikut mitos-mitos yang melingkupi kemisteriusan gunung Ciremai.

1. Tempat Bermusyawarahnya Para Wali

kawah
Panorama Kawah Gunung Ciremai

Masyarakat yang tinggal di lingkungan sekitar Gunung Ciremai meyakini gunung itu adalah lokasi pertemuan para Wali Songo. Mitos bahwa Gunung Ciremai merupakan tempat pertemuan para wali tampaknya relevan dengan nama Gunung Ciremai itu sendiri yang berasal dari kata "cerem/pencereman" yang berarti perundingan/musyawarah.

Banyak orang yang percaya kalau jalur pendakian gunung Ciremai melalui pos Linggar Jati adalah jalur yang dahulu dipakai Wali Songo untuk menuju Batulingga. Konon Wali Songo dalam melakukan perjalanan mendaki gunung Ciremai di pandu oleh kakeknya Sunan Gunung Jati, salah seorang anggota Wali songo yang tinggal di Cirebon. Pendakian dimulai dari desa Linggar Jati, dan Pos Cibunar adalah tempat pertama rombongan Wali Songo beristirahat.

Medan pendakian lewat jalur ini memang terkenal paling sulit di banding dengan jalur-jalur lain seperti dari Palutungan maupun Majalengka. Sampai-sampai kakek Sunan Gunung Jati kelelahan (maklum karena pengaruh usia) pas dipertengahan gunung.

Kakek Sunan gunung Jati akhirnya memutuskan untuk tidak meneruskan pendakiannya dan memilih beristirahat dan mempersilahkan rombongan Wali Songo untuk meneruskan pendakian dengan ditemani oleh empat orang pengawal sang kakek.

Kakek Sunan Gunung Jati memilih istirahat sembari duduk bersila di atas batu besar. Batu inilah yang sekarang di kenal dengan sebutan Batu Lingga. Karena saking lamanya duduk untuk berkhalwat, sampai-sampai batu tempat duduk ini meninggalkan bekas dan berbentuk daun waru atau jantung.

Kakek Sunan Gunung Jati sampai lama di tengah gunung Ciremai karena sampai Walisongo sudah turun, Sang Kakek tidak mau ikut turun dikarenakan malu. Karenanya ada yang menyebutnya Satria Kawirangan.

Di bagian atas dari Pos Batu Lingga ada pos Sangga Buana, kalau di perhatikan pohon-pohonnya berbentuk unik. Yakni pucuknya meliuk ke arah bawah semua. Konon para pengawal Sang Kakek yang mestinya menemani Wali Songo ternyata juga tidak kuat meneruskan pendakian.

Akhirnya mereka sepakat untuk mengikuti jejak Sang Kakek. Dan sebagai penghormatan kepada Sang Kakek, mereka membungkukkan badannya ke bawah ke arah Sang Kakek beristirahat. Para pengawal inilah yang konon berubah menjadi pepohonan yang pucuk-pucuknya meliuk ke bawah.

Sampailah rombongan Wali Songo di bawah puncak 1 ciremai bertepatan dengan waktu sholat ashar tiba. Wali Songo pun menunaikan sholat jamaah ashar di bawah puncak satu. Usai sholat ashar rombongan Walisongo memutuskan untuk istirahat dan makan bersama.

Namun ketika akan mulai memasak, ternyata semua persediaan lauk pauk dan bumbu-bumbunya sudah habis. Cuma ada garam dapur saja yang tersisa. Mungkin inilah yang menjadi asal usul nama Puncak Pengasinan yang merupakan puncak 2 gunung Ciremai. Dinamakan sebagai Puncak Pengasinan karena para wali Songo cuma makan nasi dengan garam yang asin rasanya.

Perjalanan Wali Songo pun di lanjutkan sampai ke puncak 1. Dan untuk menghormati Kakek dari Sunan Gunung Jati, Wali Songo berdo'a memohon petunjuk kepada Allah bagaimana cara penghormatan bagi Sang kakek yang sudah bersusah payah ikut memandu pendakian ini. Dengan Izin dan Kuasa Allah SWT, puncak tempat Wali Songo berdiri amblas ke dalam sampai kedalaman yang sejajar dengan tempat Kakek Sunan Gunung Jati beristirahat di Batu Lingga.

Sekitar tahun 1521-1530, Sunan Gunung Jati diyakini kembali bertapa di puncak gunung Ciremai. Ketika itu bangsa Portugis begitu kuat menekan para ulama, pejuang dan rakyat kecil. Menjelang peperangan, Sunan Gunung Jati naik ke puncak Ciremai sendirian untuk bertapa, menyendiri dan bermunajad kepada Tuhan.

Dari hasil munajad inilah yang diyakini membuat Sunan Gunung Jati memerintahkan Falatehan untuk menyerbu pasukan Portugis di Sunda Kelapa yang mengakibatkan hengkangnya Portugis dari tanah Jawa.

2. Nyi Linggi Dan Dua Ekor Macan Tutul

macan tutul jawa
Macan Tutul Jawa

Satu mitos yang selalu menjadi perbincangan masyarakat sekitar Gunung Ciremai adalah misteri Nyi Linggi dan dua macan kumbang. Menurut salah satu juru kunci Ciremai, setelah Sunan Gunung Jati tidak bertapa di Batulingga, maka Nyi Linggi datang ke tempat tersebut menggantikan Sunan Gunung Jati.

Namun kedatangan Nyi Linggi ke Batulingga tidak sendirian, ia ditemani oleh dua ekor binatang kesayangannya yaitu macan tutul. Kedatangan Nyi Linggi ke Batulingga ingin mendapatkan ilmu kedigdayaan.

Tapi sayangnya Nyi Linggi gagal memperoleh ilmu yang diinginkan. Nyi Linggi meninggal dunia di Batulingga sementara pengiringnya yaitu dua ekor macan tutul itu hilang entah ke mana. Kabarnya setelah peristiwa itu kejadian aneh sering terjadi di sekitar Batulingga yaitu munculnya sosok Nyi Linggi dan dua ekor macan tutulnya.

3. Singgasana Nyi Pelet

nini pelet
Nyi Pelet

Konon, Gunung Ceremai dipercaya sebagai singgasana kerajaan Nini Pelet. Menurut Masruri dalam bukunya berjudul: "Rahasia Pelet", Nini Pelet ini merupakan tokoh yang memiliki kesaktian hebat, khususnya di bidang percintaan. Dia adalah tokoh yang merebut kitab "Mantra Asmara" ciptaan tokoh sakti bernama Ki Buyut Mangun Tapa.

Salah satu isi dari ajian dalam kitab tersebut adalah ilmu "Jaran Goyang" yang dikenal ampuh mengikat hati lawan jenis. Uniknya, ilmu itu sampai kini masih dipelajari oleh kebanyakan orang, terutama para paranormal.

Sementara itu, Ki Buyut Mangun Tapa, si pencipta ilmu "Jaran Goyang", setelah meninggal dimakamkan di Desa Mangun Jaya, Blok Karang Jaya, Indramayu, Jawa Barat. Untuk Masyarakat di sekitar makam itu meyakini sering muncul harimau siluman yang dipercaya peliharaan ki buyut. Konon, harimau itu sering muncul pada tengah malam, khususnya malam Jumat Kliwon dan Selasa Legi.

harimau jawa
Harimau Jawa

Konon kabarnya Gunung Ceremai menjadi sarang harimau bermata satu. Menurut legenda makhluk itu merupakan tunggangan sekaligus sekutu dari Nini Pelet. Kabarnya, harimau bermata satu itu tinggal di antara rimbun ranting kering yang menyerupai goa di gunung itu. Dari tempat itu dapat terlihat hamparan langit dan awan yang luas. Tak hanya itu, gunung Slamet pun dapat terlihat jelas dari tempat itu.

4. Jalak Hitam dan Tawon Hitam

jalak hitam gunung ciremai
Jalak Hitam Gunung Ciremai

Ketika perjalanan sudah mencapai Pengalap atau pos VI, berarti pendakian telah mencapai separuh jalan. Dan harus berhati-hati jika sudah memasuki Pengalap atau pos VI. Pengalap berarti jemputan. Di pos Pengalap setiap pendaki akan didatangi dua binatang yang sampai sekarang masih menjadi misteri keberandaannya yaitu Jalak Hitam dan Tawon Hitam. Sampai sekarang tidak ada seorangpun yang tahu mengapa Jalak Hitam selalu mengiringi pendaki dari Pengalap ke Seruni. Dan juga Tawon Hitam yang selalu datang mengganggu.

5. Larangan Membuang Air Seni

sampah botol penampung air seni di gunung ciremai
Sampah Botol Penampung Air Seni di Gunung Ciremai

Salah satu mitos yang berkembang soal gunung Ceremai adalah larangan membuang air seni ke tanah. Biasanya pantangan itu diberitahu oleh kuncen gunung Ceremai kepada para pendaki sebelum melanjutkan perjalanannya.

Konon, jika tak dituruti akan mendapat bala sehingga para pendaki yang mempercayai pantangan tersebut membuang air seninya kedalam botol atau plastik. Karenanya tak heran sepanjang jalur pendakian gunung Ciremai banyak dahan dan ranting pohon yang digantungi plastik atau botol plastik yang berisi air seni.

Pantangan tersebut ujung-ujungnya berdampak pada kerusakan alam gunung Ciremai. Bayangkan dalam beberapa tahun kedepan, berapa banyak pendaki yang akan naik ke gunung ciremai?. Berapa orang yang percaya pantangan itu dan akan buang air seni dalam botol dan plastik?. Berapa banyak pula sampah-sampah plastik yang akan bertambah dan merusak ke asrian alam gunung Ciremai?.

Itulah sebagian kecil mitos-mitos tentang gunung Ciremai. Masih banyak mitos lain yang beredar di masyarakat seperti mitos pos Kuburan Kuda, yang dipercaya merupakan kuburan dua kuda tentara Jepang di masa penjajahan. Jika melewati daerah ini sering terdengar ringkikan kuda tanpa ada wujudnya.

Ada pula mitos pos Papa Tere yang dianggap angker karena pernah terjadi pembunuhan terhadap seorang anak oleh ayah tirinya. Mitos pos Sangga Buana dan Pengasungan juga dikabarkan angker karena sering terdengar derap langkah kaki para serdadu Jepang. Menurut cerita, tempat ini dulunya menjadi tempat pembuangan tawanan perang dari Indonesia.

Belum lagi mitos-mitos yang dikisahkan dari pengalaman para pendaki gunung seperti penampakan kuntilanak, Orang tinggi besar, kakek-kakek jaman dulu, suara aneh angin badai, semua korek api tidak bisa menyala dan masih banyak lagi kejadian tidak masuk akal lainnya sehingga yang menimbulkan mitos-mitos baru.

Cerita mistik dari mulut ke mulut ini memang sukar diuji kebenarannya. Dan misteri gunung Ciremai mungkin selamanya akan tetap tak terungkap. Tetapi tidak ada salahnya kita mengetahui cerita-cerita tersebut. Bukan untuk diyakini apalagi ditakuti tetapi untuk menambah wawasan kekayaan tradisi suatu masyarakat.

Kepercayaan masyarakat setempat menjadi warna tersendiri ketika berkaitan dengan beredarnya cerita misteri Gunung Ciremai. Bagaimanapun keadaannya, percaya atau tidak semua itu kembali kepada pemikiran dan penilaian masing-masing.

Satu hal yang harus dihargai dari mitos gunung Ciremai ini adalah posisinya sebagai salah satu kekayaan cerita rakyat di Jawa Barat. Sebuah khazanah kekayaan cerita atau budaya lisan yang tetap harus dihargai dan dipelihara keasriannya. (int/tvsx)

Maaf, hanya komentar relevan yang akan ditampilkan. Komentar sampah atau link judi online atau iklan ilegal akan kami blokir/hapus.

Posting Komentar

0Komentar